Hubungi Kami :

Dikotomi Ilmu Agama dan Umum
Secara keseluruhan, manusia diciptakan dengan sempurna dan telah diletakkan didalam diri seorang manusia sebuah masterpice atau maha karya terbaik tuhan, yakni otak atau akal. Sebuah benda hidup dengan jutaan saraf yang sungguh ajaib, tak ada padanannya, tak ada persamaannya. Keajaiban akal merupakan keindahan yang dimiliki manusia, lukman ra pernah berkata pada anaknya :
يا بنى ما عبد الله بشيئ أفضل من العقل
Artinya :
wahai anakku, tidak ada anggota tubuh yang lebih utama dari seorang hamba tuhan kecuali akalnya.
Otak yang diletakkan tuhan pada diri kita ini berukuran sama dan dengan bentuk yang sama pula, oleh sabab itu, semua manusia dimuka bumi ini memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk maju medapatkan pengetahuan dan menerima pelajaran. Hanya saja minat yang dirangsang oleh otak manusia berbeda-beda tergantung dimana ia tumbuh dan berkembang, karena pada mulanya, otak manusia merupakan sehelai kertas kosong lalu seiring berjalannya waktu terdapat coretan-coretan yang ditinggalkan oleh pengalamannya. Sehingga kemampuan daya cipta, rasa, dan karsa manusia dalam berpikir melahirkan perbedaan-perbedaan.
Namun, beberapa orang malah membuat sebuah dikotomi atau pengkotakan antara satu pengetahuan dengan pengetahun yang lain, dari satu pemikiran dengan pemikiran yang lain. Dimana satu pengetahuan tertentu dinilai harus diutamakan dari pada satu ilmu yang lain. Ini tidak benar, jika maksudnya untuk menjatuhkan minat terhadap ilmu yang diyakini tidak berguna dan terkesan tak penting, misalnya kamu harus belajar nahwu, tak perlu kamu belajar matematika untuk apa matematika dan seterusnya, ini kurang benar. karena pada dasarnya semua ilmu bersumber dari al qur’an, baik secara tersirat maupun tersurat. Allah swt berfirman :
قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا (الكهف : ۱۰۹)
Artinya :
“Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al-Kahf: 109).
Jadi, frasa kalimatu rabbi yang dimaksud adalah ilmu Allah swt, ia tak akan habis meski ditulis dengan tinta sebanyak lautan atau bahkan dua kali lipatnya atau berkali-kali lipatnya. Ilmu itu akan terus berkembang dan tak akan habis.
Untuk mengurai hal diatas, kita bisa membagi ilmu menjadi dua pembagian, bagian pertama ilmu yang memang wajib dimiliki oleh setiap muslim, yakni ilmu yang bersangkutan dengan hak tuhan kepada hambanya (hukukur Rububiyyah) atau istilah mudahnya ilmu fiqih, meliputi sholat, zakat, puasa, haji, dll. Ilmu fiqih ini mesti dimiliki oleh setiap muslim karena memang hanya dengan ilmu ini kita bisa beramal dan beribadah dengan benar. Selain ilmu fiqih, ada dua ilmu yang wajib dimiliki manusia, ilmu tauhid dan ilmu akhlaq atau tasawwuf. Syaikh Zainuddin bin Ali al Malibari (kakek dari syaikh Zainuddin bin Abdul aziz al Malibari pengarang fathul mu’in), dalam Hidayatul Adzkiya’ mengatakan : Pelajarilah ilmu yang dapat mengesahkan ketaatan (fiqih) dan keyakinan (akidah), serta menyucikan hati (tasawwuf). Ketahuilah, ketiga ilmu ini hukumnya Fardlu ain. Amalkanlah, maka keselamatan dan kehormatan akan anda rasakan.
Bagian kedua, yakni ilmu diluar ilmu fiqih, tasawwuf dan aqidah. Nah, inilah yang saya maksud dengan ilmu minat, seperti nahwu, sorof, matematika, fisika, dll. Jika seseorang hidup sejak kecil dengan komputer tentu ia akan berminat mempelajari IT, jika seseorang hidup dalam lingkungan keluraga dokter tentu ia akan minat mempelajari ilmu kedokteran dan seterusnya.
Jika sudah demikian, maka dikotomi antara satu pengetahuan dengan pengetahuan yang lain sebenarnya tidak perlu dilakukan, karena pada dasarnya kita telah tahu mana yang mesti menjadi prioritas utamanya. Seseorang boleh mendalami atau mengembangkan minat pengetahuannya, apapun minat itu, asalkan minat itu postif boleh saja dilakukan. Namun yag perlu diperhatikan adalah kita mesti menjalankan apa yang menjadi kewajiban dan menjadi kebutuhan.
Ibararatnya, ilmu fiqih adalah kebutuhan primer semisal rumah, sandang, dan pangan. Sedangkan pengetahuan yang sifatnya minat adalah kebutuhan sekunder semisal motor, mobil, dll. Setiap orang boleh saja memiliki mobil namun tentu ia harus memiliki rumah terlebih dahulu.
Nabi daud adalah seorang nabi sekaligus Rasul, sebagai utusan tuhan tentu nabi Daud paham betul mengenai pengetahuan yang wajib diketahui oleh seorang manusia sebagai makhluk yang dituntut haknya oleh tuhan. Nabi Daud paham betul ilmu fiqih, tasawwuf dan tauhid, disamping beliau pandai mengenai ilmu logam dan bahan tambang, al quran mengisahkan : (Al-Anbiya ayat : 80)
وَعَلَّمْنٰهُ صَنْعَةَ لَبُوْسٍ لَّكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِّنْۢ بَأْسِكُمْۚ فَهَلْ اَنْتُمْ شٰكِرُوْنَ
Artinya :
“Dan Kami ajarkan (pula) kepada Dawud cara membuat baju besi untukmu, guna melindungi kamu dalam peperangan. Apakah kamu bersyukur (kepada Allah)?”
Tidak hanya nabi Daud, nabi-nabi lain juga memiliki bakat dan mengembangkan bakatnya, misalnya lagi nabi Nuh, beliau berdakwah menyebarkan syariat Allah, selain ternyata beliau juga seorang ahli perkayuan, al-qur’an mengisahkan : ( Al-Hud ayat : 37)
وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِاَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِيْ فِى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا ۚاِنَّهُمْ مُّغْرَقُوْنَ
Artinya :
“Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”
Dengan petunjuk allah, nabi Nuh berhasil menyelesaikan proyek besar, pembuatan kapal yang sampai detik ini tak ada manusia yang mampu membuat kapal dengan ukuran sebesar kapal nabi Nuh as. ini membuktikan bahwa nabi Nuh memang maestronya kayu. Menurut Dr Whitcomb, dalam perahu itu terdapat sekitar 3.700 binatang mamalia, 8.600 jenis itik/burung, 6.300 jenis reptilia, 2.500 jenis amfibi, dan sisanya umat Nabi Nuh. Adapun berat perahu itu diprediksikan mencapai 24.300 ton. (republika.co.id)
Selain kedua nabi diatas, ada lagi nabi Ibrahim, bapak monoteisme ini ternyata seorang ahli arsitektur dan konstruksi bangunan. Mengenai keahlian nabi Ibrahim ini, al quran mengisahkan : (Al-Baqaroh ayat : 127)
وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Artinya :
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Andaikan nabi Ibrahim bukan seorang yang ahli dalam konstruksi bangunan, sudah barang tentu ka’bah tak akan pernah terbangun. Pondasi ka’bah merupakan pondasi yang amat sangat kokoh dan kuat, jika saja ka’bah dibangun oleh orang yang asal-asalan alias amatiran sudah pasti pondasi ka’bah ambruk dan kropos oleh zaman. Dan tak akan menjadi warisan bagi umat setelahnya.
Mengenai keahlian dan pengetahuan umum, islam pernah mengalami masa keemasan, yakni era bani abbasiyah atau orang barat menyebutnya abasit. Di era ini banyak sekali ulama’ yang mengisi pos-pos pengetahuan umum, misalnya, al-Jazari ia merupakan bapak mekanik dan peletak pengetahuan dasar robotika. Ibnu sina bapak kedokteran, ibnu rusdi ahli filsafat, al-khuwarizmi ahli matematika dan perumus teori al jabar hingga namanya diabadikan menjadi algoritma dalam bahasa portugal berarti abjad, al khawarizmi merupakan pengajar di madrasah yang didirikan dan dikembangkan oleh sultan al makmun, ia merupakan guru besar dibidang ini.
Dan banyak sekali ulama’ lain yang menjadi pioner pengetahuan dibidangnya masing-masing, tentu disamping keahlian dibidang yang diminatnya, masing-masing dari mereka telah paham betul mengenai pengetahuan wajib alias pengetahuan fiqih, tasawwuf dan aqidah.
Mengakarnya stereotip negatif terhadap ilmu umum sampai kiwari. Terdapat banyak faktor yang melatar belakangi. Sebagai contoh, adanya sudut pandang bahwa ilmu fiqih sudah tidak penting dan umat islam harus fokus pada pendalaman ilmu umum jika ingin menang melawan hegemoni barat seperti yang dilakukan kemal at-Tatruk dari turki dan orang-orang yang satu suara dengannya, pendapat seperti ini tentu menjadi pemantik bara api permusuhan dari para cendekiawan islam. Pendapat yang mencederai hati para pemerhati keilmuan islam ini secara tidak langsung berusaha ingin mencerabut akar kuat terhadap pemahaman fiqih yang telah menjadi keyakinan kuat umat islam. Sehingga berujung pada penilaian bahwa at-Tatruk dan buah pikirnya merupakan kebohongan dan dusta, ia adalah musuh dan tak patut diikuti . At tatruk secara otomatis menjadi public enemy bagi kalangan pemerhati fiqih berikut pendapatnya.
Alasan berikutnya adalah kekaguman dunia islam terhadap kemajuan barat yang tak diimbangi dengan pembacaan ulang pada sejarah keemasan bani abbasiyah dalam melahirkan ulama’-ulama’ yang faqih juga berpengetahuan luas pada ilmu umum. Kurangnya pembacaan sejarah ini tentu melahirkan “kelupaan” bahwa islam bisa saja menjadi pioner dalam pengetahuan umum tanpa harus meninggalkan pengetahuan fiqih, tasawwuf dan aqidah. Dan masih banyak lagi alasan yang melatar belakangi adanya dikotomi ini, pengkotakan pemahaman yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Akhiran, apapun minat yang kita miliki, kita berhak mengembangkannya, kita boleh menurutinya, kita boleh menggapainya, apapun itu. Namun, disamping itu semua, kita harus sadar pada kewajiban, kita harus sadar pada kebutuhan, bahwa ada hak tuhan yang harus kita jalankan.